
Wamenkomdigi Nezar Patria Bahas Cyber War dan Perebutan Kuasa Teknologi di MDRK USK
Banda Aceh, 5 September 2026 — Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK), Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, bekerja sama dengan International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), menyelenggarakan kuliah tamu bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kuliah tersebut, Nezar Patria membahas perubahan karakter konflik global di era digital. Menurutnya, perang saat ini tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga melalui cyber war, penguasaan informasi, teknologi, dan pembentukan opini melalui media digital. Media digital dapat menjadi sarana untuk memasukkan ideologi dan narasi tertentu tentang konflik ke dalam pemikiran masyarakat. Kuliah Tamu ini dibuka oleh Direktur Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P.
Penguasaan teknologi, menurut Nezar, telah menjadi bagian penting dalam negosiasi kekuasaan global. Ia mencontohkan kebangkitan Jepang melalui industri teknologi pada abad ke-20, disusul Tiongkok yang mampu melakukan transformasi ekonomi sekaligus berkembang menjadi salah satu kekuatan teknologi dunia.
Saat ini, kompetisi global semakin terlihat salah satunya melalui “chip war” atau perebutan penguasaan teknologi semikonduktor. Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Rusia, dan India menjadi bagian besar dari persaingan tersebut. Semikonduktor menjadi strategis karena merupakan komponen utama berbagai teknologi digital modern.
Persaingan teknologi juga berkaitan erat dengan penguasaan sumber daya. Pasir silika dengan kemurnian tertentu diperlukan dalam industri semikonduktor, sementara mineral seperti nikel, tembaga, dan kobalt berperan penting dalam ekosistem teknologi dan baterai.
Kuliah tamu ini memperluas perspektif mahasiswa MDRK bahwa studi konflik dan perdamaian kini perlu memahami teknologi, informasi, sumber daya strategis, dan rantai pasok global sebagai arena baru perebutan kekuasaan. Perubahan ini menuntut kajian perdamaian untuk terus berkembang dalam membaca bentuk-bentuk konflik kontemporer.
Kegiatan ini sangat relevan dengan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh), karena substansi kuliah berfokus pada perubahan bentuk konflik dan tantangan perdamaian di era digital. Selanjutnya, SDG 4, SDG 9, dan SDG 17 menjadi SDG pendukung yang kuat karena kegiatan tersebut menggabungkan pendidikan, pengembangan wawasan teknologi, serta kemitraan antarlembaga.

Comments are closed