
Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menyelenggarakan kegiatan Sharing Knowledge bertema “Dua Dekade Perdamaian Mewujudkan Reintegrasi Aceh yang Lebih Berkelanjutan” pada Senin, 20 Juli 2026, bertempat di Ruang Kelas Eksekutif C, Universitas Pertahanan RI Kampus Salemba, serta diikuti secara luring dan daring melalui Zoom.
Kegiatan ini menjadi forum akademik untuk memperkuat kolaborasi antara kedua perguruan tinggi dalam mengkaji dinamika perdamaian Aceh pasca-konflik, sekaligus merumuskan gagasan strategis guna mendukung reintegrasi yang berkelanjutan melalui pendekatan multidisipliner.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan RI, Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus, S.E., M.M. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan para pemangku kepentingan dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat ketahanan nasional melalui pembangunan perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan.
Sesi pertama menghadirkan Satya Adhie Wibowo dari Universitas Pertahanan RI yang memaparkan materi mengenai reintegrasi sebagai pilar ketahanan nasional, dengan menyoroti berbagai tantangan reintegrasi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai ancaman non-tradisional. Selanjutnya, Nova Misdayanti Mandasari dari Universitas Syiah Kuala menyampaikan paparan mengenai reintegrasi akar rumput pasca-konflik Aceh, yang menekankan pentingnya peran mantan kombatan, masyarakat sipil, lembaga adat, dan pemerintah dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan.
Diskusi dipandu oleh Aris Munandar sebagai moderator, dengan pendamping akademik Dr. Ichsan Malik, M.Si. dari Universitas Pertahanan RI dan Dr. Muhammad Ya’kub Aiyub Kadir, S.Ag., LL.M., Ph.D. dari Universitas Syiah Kuala. Kedua narasumber memberikan penguatan konseptual sekaligus memperkaya diskusi melalui perspektif akademik dan pengalaman praktis dalam studi perdamaian dan resolusi konflik.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi perumusan hasil diskusi yang menghasilkan draft policy brief sebagai rekomendasi bersama. Dokumen tersebut diharapkan menjadi masukan akademik bagi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat implementasi kebijakan reintegrasi dan pembangunan perdamaian di Aceh.
Memasuki sesi Closing Statement, Ketua Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik Universitas Pertahanan RI dan Koordinator Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Sharing Knowledge yang berlangsung secara konstruktif. Keduanya menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antarlembaga dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan kajian perdamaian dan resolusi konflik. Selain itu, kedua pimpinan program studi berharap hasil diskusi dan policy brief yang telah dirumuskan dapat menjadi referensi akademik sekaligus rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan dalam mewujudkan reintegrasi Aceh yang lebih berkelanjutan.
Melalui kegiatan Sharing Knowledge ini, Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik Universitas Syiah Kuala dan Universitas Pertahanan RI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan kajian-kajian ilmiah dan rekomendasi kebijakan yang berkontribusi nyata terhadap penguatan perdamaian, ketahanan nasional, serta pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Aceh.






















Comments are closed