
Banda Aceh – Prof. Dr. Cut Dewi, Koordinator Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, menjadi pembicara dalam kegiatan Sastra Kitab yang diselenggarakan oleh Sophie’s Sunset Library pada tanggal 20 September 2026. Dalam forum tersebut, ia membawakan pembahasan bertajuk “Bustan al-Salatin: Taman dan Identitas Kota”, yang mengajak peserta melihat kembali hubungan antara teks sejarah, ruang kota, dan pembentukan identitas Banda Aceh.
Dalam pemaparannya, Prof. Cut Dewi membahas Bustan al-Salatin tidak hanya sebagai karya sastra dan historiografi penting dalam tradisi intelektual Aceh, tetapi juga sebagai sumber untuk membaca bagaimana ruang, taman, lingkungan kerajaan, dan kehidupan kota dipahami pada masa Kesultanan Aceh.
Prof. Cut Dewi juga mengajak peserta untuk melihat warisan Bustan al-Salatin dalam konteks kota Banda Aceh saat ini. Perubahan kota akibat kolonialisme, konflik, pembangunan modern, serta bencana tsunami telah mengubah banyak bagian dari lanskap historisnya. Karena itu, upaya memahami kembali teks dan jejak ruang masa lalu dapat membantu masyarakat mengenali lapisan-lapisan sejarah yang membentuk identitas Banda Aceh.
“Identitas kota tidak hanya dibentuk oleh apa yang masih dapat kita lihat hari ini, tetapi juga oleh ruang yang telah berubah atau hilang, serta oleh ingatan dan cerita yang tetap hidup tentang ruang tersebut.”
Forum Sastra Kitab yang diselenggarakan Sophie’s Sunset Library menjadi ruang pertemuan antara kajian sastra, sejarah, arsitektur, dan kehidupan kota. Melalui pembacaan kembali Bustan al-Salatin, diskusi ini juga membuka pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip Aceh dapat dihadirkan kembali untuk memahami kota masa kini dan menjadi bagian dari upaya menjaga identitasnya. Bagi Prof. Cut Dewi, pembicaraan mengenai Bustan al-Salatin pada akhirnya bukan hanya tentang merekonstruksi gambaran sebuah taman pada masa lalu, tetapi tentang bagaimana masyarakat Aceh membaca kembali hubungan antara sejarah, memori, ruang, dan identitas kota di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Kegiatan ini mendukung SDG 11 – Sustainable Cities and Communities melalui penguatan pelestarian warisan budaya, memori, dan identitas kota Banda Aceh, serta mendukung SDG 4 – Quality Education melalui pengembangan pembelajaran lintas disiplin berbasis sejarah, sastra, arsitektur, dan lingkungan.
Comments are closed