
Banda Aceh – Prof. Dr. Cut Dewi, S.T., M.T., M.Sc., Koordinator Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Syiah Kuala (USK), menjadi salah satu invited speaker pada 3rd International e-Conference on Green & Safe Cities (IeGRESAFE 2026) yang diselenggarakan pada 23–24 September 2026.
Konferensi internasional tahun ini mengangkat tema “Reshaping Urban Futures Through Green Technologies for Safer Communities”, yang menempatkan isu teknologi hijau, keamanan, ketangguhan masyarakat, dan masa depan perkotaan sebagai bagian penting dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan perkotaan kontemporer.
Dalam forum tersebut, Prof. Cut Dewi membawa perspektif mengenai hubungan antara warisan budaya, ketangguhan masyarakat, serta pemulihan setelah krisis, berdasarkan pengalaman penelitian yang dilakukannya di Aceh. Pembahasannya menekankan pentingnya melihat warisan budaya tidak hanya sebagai objek yang perlu dilindungi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang dapat berkontribusi terhadap proses pemulihan, penguatan identitas, dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan.
Pengalaman Aceh menghadapi tsunami, konflik, serta pandemi memberikan konteks penting untuk memahami bagaimana masyarakat membangun kembali hubungan dengan tempat, warisan, dan aktivitas sosial maupun ekonomi setelah krisis. Dalam konteks tersebut, konservasi dan pemanfaatan warisan perlu mempertimbangkan kebutuhan serta kapasitas masyarakat, termasuk bagaimana pariwisata dapat dikembangkan tanpa melepaskan nilai, memori, dan keterikatan masyarakat terhadap tempat.
Keikutsertaan Prof. Cut Dewi dalam forum internasional ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa pengalaman Aceh ke dalam diskusi yang lebih luas mengenai ketangguhan masyarakat, pembangunan kota yang aman dan berkelanjutan, serta peran pengetahuan lokal dan warisan budaya dalam merespons krisis. Konferensi ini diselenggarakan oleh Green Safe Cities Research Group, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Perak, bersama sejumlah mitra dan institusi akademik. Melalui pertukaran pengalaman lintas negara dan disiplin, IeGRESAFE 2026 diharapkan dapat memperkuat kolaborasi akademik dan menghasilkan pendekatan baru dalam membangun masyarakat dan kota yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini mendukung SDG 11 – Sustainable Cities and Communities sebagai tujuan utama melalui penguatan perspektif tentang kota yang aman, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan warisan budaya serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi krisis. Kegiatan ini juga berkontribusi pada SDG 13 – Climate Action melalui pertukaran pengetahuan mengenai ketangguhan masyarakat dan respons terhadap berbagai tantangan lingkungan dan perubahan iklim. Selain itu, keikutsertaan dalam konferensi internasional ini mendukung SDG 17 – Partnerships for the Goals melalui penguatan jejaring, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan antara akademisi dan institusi lintas negara.

Comments are closed